Pages

June 25, 2014

Egg Sun Flower

Bekal kakak hari ini nasi dengan frozen food kaki naga dan lele fillet crispy. Lebih praktis karena waktu sekolah udah mepet mau bell. Adapun caranya.

Bahan:
- telur 1 butir (dadar)
- lele fillet (lumuri garam, merica)
- kaki naga (frozen food)
- brokoli
- buncis 1 buah
- wortel
- nori

Cara:

  1. Siapkan nasi dibentuk bulat.
  2. Panaskan minyak goreng kaki naga. Setelah matang angkat tiriskan.
  3. Selanjutnya goreng lele fillet yang sudah dicelupkan ke dalam tepung. Goreng hingga kuning kecoklatan. Angkat dan tiriskan.
  4. Rebus brokoli, buncis, dan irisan wortel. Jangan terlalu layu. Angkat tiriskan.
  5. Siapkan telur yang telah dikocok goreng dadar tipis. Angkat, lipat dua lalu gunting tak putus.
  6. Satukan semua bahan dalam wadah bekal: nasi, telur, brokoli, kaki naga, dan lele crispy.
  7. Sentuhan terakhir taruh buncis sebagai batang bunga matahari, dan irisan wortel sebagai lebah.
Bekal siap dibawa ^^

Terong Bakar Balado

Naah, menu yang ini juga kesukaan suamiku. Murmer juga dan praktis, bumbunya bisa beli di tukang bumbu padang di pasar. Haha, ga mau ribet. Di resto padang mahal looh harganya, padahal klo bikin sendiri bisa jadi banyak *emak irit* :p

Bahan:
- terong ungu 4 buah

Bumbu:
- cabai merah 5 buah
- bawang merah 5 buah
- bawang putih 2 buah
- tomat 1 buah
- garam secukupnya
- gula secukupnya

Semua bumbu ini dihaluskan, cara praktis bisa beli bumbu halus di tukang bumbu padang. Pilih yang cabai merahnya halus.

Cara:

  1. Cuci bersih terong buang pangkal batangnya (tp di resto Bundo gak dibuang nih, bisa jg sih). Kulitnya yg ungu gak usah dikupas. Belah 2 terong. Lalu bakar terong di wajan anti lengket. Bolak balik sampai layu. Angkat dan sisihkan.
  2. Panaskan minyak 4 sdm. Tumis bumbu yang dihaluskan tambahkan garam dan gula.
  3. Setelah bumbu harum, masukkan terong yang telah dibakar.
  4. Aduk semua sampai merata dan bumbu meresap.
  5. Angkat dan sajikan.

Selamat mencoba ^^


Oseng Tempe Buncis

Tempe makanan kesukaan suamiku, hoho Indonesia banget ya. Harganya murah meriah, praktis masaknya karena ga perlu bumbu halus, dan tinggi proteinnya. Kali ini saya akan masak oseng tempe bumbu kecap dengan buncis. Yuks langsung aja ya...

Bahan:

- tempe ukuran sedang, harga di pasar     biasanya 3 ribu - 4 ribu
- buncis 5 buah
- cabai hijau 3 buah
- minyak goreng untuk menggoreng tempe, dan tumisan setelahnya

Bumbu:
- bawang merah 5 siung
- bawang putih 2 siung
- kecap pedas seperti merk ABC
- garam secukupnya
- gula secukupnya

Cara:

  1. Siapkan minyak dalam wajan secukupnya agar tempe yang digoreng nanti terendam. Sambil potong tempe sesuai ukuran yang diinginkan.
  2. Masukkan tempe goreng sampai kecoklatan, jangan terlalu kering. Sisihkan.
  3. Iris bawang merah, putih, cabai hijau, dan buncis (sesuai yang diinginkan).
  4. Sipakan minyak kira-kira 4 sdm. Tumis bawang merah putih terlebih dahulu.
  5. Masukkan potongan buncis.
  6. Masukkan potongan tempe. 
  7. Tambahkan bumbu lain garam, gula, dan kecap pedas. Aduk hingga semua bumbu merata dan menyerap.
  8. Masukkan irisan cabai hijau. Aduk hingga semua bahan tercampur.
  9. Angkat dan sajikan.

Selamat mencoba ^^

Dampak Era Layar bagi Anak

Melihat berita tentang kekerasan seksual yang diderita oleh anak TK JIS (Jakarta International School), rasanya miris sekali. Ibu mana yang tidak pedih hatinya ketika menyadari anak yang dicintai diperlakukan demikian. Mungkin sebenernya ini juga fenomena gunung es, terjadi pada anak-anak lain tapi mereka tak bersuara, tak booming di media, isu gak ‘seksi’ dibanding isu perpolitikan negeri ini sekarang, huuuft. Boleh jadi sekarang kita hanya melihat di layar kaca, tapi siapa sangka itu bisa saja terjadi di lingkungan sekitar kita. Na’udzubillah min dzalik. Karena itulah upaya pencerdasan dan penyadaran orang tua akan pendidikan pendidikan seksualitas pada anak sangat diperlukan. Apalagi dewasa ini, era global, sekali sentuh, sekali klik, kita bisa melihat apapun yang terjadi di seluruh dunia melalui media internet, televisi, dan itu semua bisa diakses ananda kita, di mobile phone, di warnet, sedangkan ortunya sendiri ‘gaptek’ alias gagap teknologi. Jangankan mengikuti perkembangan internet, mungkin bahasa yang mereka gunakan pada teman-temannya (misal bahasa 4L4y) tak bisa dipahami.

Beberapa waktu lalu sejak munculnya berita itu saya hampir sering mendapatkan broadcast message (BC) di grup whatsapp mengenai beberapa reseume seminar untuk ‘menangkis’ kekerasan seksual pada anak. Di antaranya dari Yayasan Kita & Buah Hati yang memang concern dalam persoalan semacam ini. Walau tetap saja ada pro-kontra soal Naruto lah. Tapi memang, tontonan televisi lokal kita seperti kartun animasi (apalagi sinetron) serta bacaan komik, bisa jadi tak layak dibaca anak-anak. Makanya anak-anak saya sendiri sangat ketat diet televisi, maksimal sekali 2 jam per hari. Tapi seringnya 1 jam per hari. Itu pun banyak iklannya yang lebih mereka hafal lagu-lagunya, trus kalau ke supermarket bisa ambil-ambil snacks seperti yang diiklan deh, wadooh. Paling untuk screen time saya siasati dengan mendownload film yang lulus sensor saya, atau saya temani nontonnya dan ini memang butuh waktu serta kesabaran, karena setiap adegan dan percakapan mereka bertanya melulu. Tapi kalau tidak bertanya pada kita sebagai orang tuanya, nanya ke siapa lagi???

Akhirnya saya berkesempatan juga mendapatkan sharing materi dengan tema “Kekerasan Seksual pada Anak” yang spesifiknya mengenai “Dampak Era Layar bagi Anak”, dari Yayasan Kita & Buah Hati secara free karena saya panitianya, hehe. Materi disampaikan oleh mba Kodariyah Nurhayat, S.Psi ketika acara majelis taklim di Kampung Pulo, Pinang Ranti. Ada dua paket slide yang beliau kirimkan ke email saya. Pada kesempatan kali ini, saya akan mereview bagian pokoknya dari slides tersebut.

Hidup di era layar saat ini bila berlebihan, bisa berdampak pada kesehatan psikis dan psikologis terutama pada anak-anak. Layar dalam hal ini mencakup: telepon selular; televisi; komputer; tablet PC; serta berbagai jenis perangkat games berbagai ukuran, bentuk, dan harga.

Sasaran utama produk teknologi layar adalah anak dan remaja. Karena usia ini secara emosi belum stabil, belum bisa mengambil keputusan sendiri, dan rentang waktu dampak ketergantungannya lebih panjang.

Berikut dampak terburuk ketergantungan games dan menonton televisi:


Dari beberapa jabaran tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka, kita sebagai orang tua perlu pencerdasan dan kesadaran bahwa pendidikan seks pada anak bukanlah hal yang tabu. Bahkan bila anak bertanya lebih baik dijelaskan dengan baik. Menggunakan bahasa yang mereka pahami, dan tidak porno. Jika kita tidak bisa menjelaskannya dengan lugas, lantas akan kemana dan kepada siapa mereka bertanya? Penanaman nilai yang baik dari orang tua sejak dini akan membentuk karakter di diri anak, sehingga pengaruh buruk lingkungan, pertemanan, bahkan mungkin kebiasaan yang tidak baik dalam kerabat keluarga akan mudah disaring dan ditangkis.

Selain rasa percaya diri dari orang tua dalam menyampaikannya, kita juga harus memanfaatkan momentum emas dalam menjelaskan hal-hal tersebut dengan bahasa mereka. Gunakan kalimat yang KISS (Keep Information Short & Simple). Cek pemahaman anak tentang seks. Komunikasi yang terbuka, sehingga jarak antara anak dan kita tidak kaku. Selain itu lingkungan di dalam rumah juga harus diatur agar ruang komputer dan internet dapat diakses oleh siapa saja. Layar menghadap keluar sehingga apa yang sedang dilakukan anak terawasi. Pada akhirnya ikhtiar tersebut kita barengi dengan doa munajat kita ke Rabb yang menciptakan dan mengawasi mereka. Agar kelak ananda kita senantiasa dalam penjagaan-Nya, dan kita lulus sebagai orang tua yang amanah dalam mengasuh mereka. Aamiin YRA.

Jakarta, 26 April 2014









June 11, 2014

Berbagi Peran & Tanggung Jawab antara Orang Tua-Guru

photo doc: from web
Liburan tanggal merah hari ini Kamis, 29 Mei 2014 saya menghadiri orientasi siswa baru untuk si Adik, sekaligus daftar ulang si Kakak. Dalam orientasi kali ini diperkaya dengan materi dari Pak Agus Fatah, seorang konsultan pendidikan.

Dalam materi yang disampaikan melalui slide dengan pembawaan yang khas dan interaktif, Pak Agus menyampaikan bahwa orang tua dan guru memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam hal berikut:

  • Memberi tauladan
  • Memberi tahu
  • Memantau
  • Menasehati
  • Memperbaiki
  • Konsekuensi



              Dalam pendidikan anak-anak di lingkungan keluarga, harus dimulai dengan kerjasama ayah dan ibu. Ayah diibaratkan sebagai perwakilan dunia luar rumah. Jadi karakter yang melekat pada figur ayah dan bisa ditanamkan ke anak adalah keberanian dan ketegasan. Sedangkan ibu merupakan perwakilan dunia dalam keluarga. Dengan demikian karakter ibu yang melekat dan ditanamkan ke anak adalah kesabaran dan keteguhan. Jika keduanya dijalankan seimbang sesuai visi misi yang sama dalam pendidikan, saling melengkapi dan menutupi kekurangan, serta bisa berbagi tanggung jawab, maka anak yang terbentuk dari pendidikan itu akan keluar dan tumbuh sebagai karakter yang lengkap.

              Adapun dampak ketidakhadiran figur ayah dalam pendidikan (Father Hunger) di antaranya:
              • Anak akan kesepian
              • Tidak percaya diri
              • Rendahnya harga diri
              • Kekanak-kanakan
              • Ketergantungan
              • Sulit mengidentifikasi identitas seksual
              • Kesulitan dalam belajar
              • Kurang bisa mengambil keputusan
              • Bagi anak perempauan mengalami kesulitan menentukan pasangan hidup.

              Sedangkan beberapa tipe pengasuhan khas seorang ayah:       
              • Malam menjelang tidur, anak harus scanning wajah ayahnya
              • Pagi hari sebelum berangka kerja, ketika bangun tidur anak juga harus scanning wajah ayahnya
              • Siang hari ayah menyapa anak via telpon minimal 5 menit. Ini juga untuk menghindari sms/telpon penipuan yang biasanya meminta sejumlah dana untuk ditransfer karena misal si anak kecelakaan dan harus masuk RS. Kalau ayahnya rutin melakukan ini, maka kejahatan seperti itu bisa dihindari. Karena ayah tau kondisi anaknya sebenarnya.
              • Sewaktu hari libur (keep in touch). Jadi berlibur bersama, dengan objek tujuan yang sama tidak sibuk dengan urusan masing-masing. Misal ketika libur jalan ke mall: ibu ke supermarket, anak ke play ground, sang ayah ke toko buku. Jika seperti ini maka tidak ada kebersamaan walau perginya bersama-sama.
              • Tetapkan waktu berharga versi anak.
              • Melakukan olahraga bersama yang disukai anak.
              • Camping bersama, serta aktivitas lainnya yang membangun bonding kebersamaan.
              Dalam membangun kerjasama pendidikan di sekolah, komunikasi antara ortu dan guru harus terjalin intensif. Bahkan dari cerita Pak Agus, ada sekolah yang syarat untuk masuk di sana, ketika ambil raport semua anggota rumah harus bisa hadir. Misal jikalau ada 10 orang (ayah, ibu, kakak, adik, nenek, kakek, satpam, pengasuh, pembantu rumah tangga, tukang kebun) di dalam rumah, semua harus bisa dihadirkan. Karena dalam pendidikan butuh sistem yang baik. Hal ini menyangkut pola pengasuhan, karakter, mungkin juga asupan gizi dalam makanan, sopan santun, lingkungan yang kondusif, dll.

              Semoga dengan pembagian peran yang baik di dalam keluarga, maka peran guru di sekolah yang berfungsi untuk melengkapi sisi akademisnya akan lebih mudah dijalankan. Di sisi lain bila terbangun kerja sama yang baik, maka perkembangan karakter positif anak akan mudah terwujud.(snd)




              Sumber materi: agus_fatah (Pendongeng, Trainer, Motivator, Konsultan Pendidikan)
              dengan beberapa penyesuaian kalimat.

              June 10, 2014

              Taman Bunga Keong Mas & Skylift di TMII

              Mengawali long week end, libur tanggal merah (Jumat) di bulan April, saya tetap bangun pagi-pagi seperti bersiap-siap mengantar si Kakak sekolah. Kali ini saya dan teman-teman akan ke TMII. Sejak jauh hari kami merencakan jalan-jalan (sebenarnya sih ngaji outdoor hehe). Karena dalam beberapa program, memang ada rekreasi, olahraga, cooking class, sharing keahlian, dll. Alhamdulillah jadual jalan-jalan ini pada bisa, tapi ada absen 1 org, hiks.

              Kami sewa anter-jemput angkot Transhalim. Bapak supirnya tepat waktu jam 7 teng sudah tiba di tempat yang dijanjikan, eh kitanya yang malah telat. hehe maap ya Pak. Jadi kita berangkat jam 8 kurang. Sambil makan nasi uduk di angkot, terus langsung menuju tujuan yaitu Taman Bunga Keong Mas TMII. Biaya masuk pintu utama TMII 10rb/orang, biaya masuk Taman Bunga 5rb/org. Saya sebenernya bawa si Kakak, tapi dia gak dihitung tuh. Jadi yang bayar, orang dewasa aja. Tiket masuk dibawa bapak supir angkot, jadi nanti ketika beliau jemput hanya menunjukkan tiket itu, tidak usah bayar lagi.

              Taman bunganya luasss sekali, indah, walau ada beberapa spot yang sepertinya perlu peremajaan, terutama WC ya. Tapi di luar itu semua, ini benar-benar rekreasi murah meriah yang recommended & bisa dikunjungi banyak orang. Ketika kita datang ada rombongan beberapa bus pariwisata dari luar kota, di dalam saung-saungnya juga bisa disewa, atau mau duduk gelar terpal (harga sewanya 50rb) juga bisa, di bawah pohon manapun. Ada beberapa arena main anak-anak seperti ayunan, jungkat-jungkit, ada balon udara, tapi kemarin tidak aktif. Gak tau, lagi libur atau udah gak berfungsi lagi? Beberapa spot juga dimanfaatkan sebagai tempat foto pre-wedding.


              Setelah menjalankan rangkaian acara, kami memesan makan siang di stand resto di dalam TMII. Memang bagusnya makan siang dan perbekalan (terutama minum yang buanyak) sudah disiapkan dari sebelum berangkat ya. Jadi di sana tidak repot lagi mencari menu atau tidak merasakan harga yang kurang pas.

              Setelah puas foto-foto di dalam arena taman bunga, kita beranjak untuk sholat dzhuhur ke Masjid Pangeran Diponegoro. Setelah itu acara bebas, dan si Kakak udah gak sabar mau naik Skylift. 

              Baiklaah, kita pun terpisah 2 tim. Kami ber-4 sama si Kakak naik Skylift. Biaya 30rb/org (anak di atas 2 thn bayar), jadi saya beli 2 tiket. Cukup antri, tapi gak panjang banget, lumayan lah nunggu kurang lebih 30 menit. Mau urung gak bisa, karena tiket gak bisa dikembalikan. Jadi ya lanjut aja mengantri.

              Akhirnya tiba juga giliran kami naik. Dapat keretanya yang baru jd rada panas, karena gak ada jendelanya, hanya sirkulasi dari atas saja seperti di bus ber-AC. Tapi setelah mulai jalan lumayan ada angin sepoi-sepoi. Lumayan deg-degan juga ya, haha ngeri bow, tapi si Kakak seneng-seneng aja dia. Akhirnya kita juga foto-foto sambil duduk menikmati pemandangan dari atas. Naik kereta ini pulang pergi. Jadi akan kembali ke stasiun ketika kita naik. Lumayan lah dengan harga segitu ya.



              Kita pulang jam 3 kurang, alhamdulillah pak supir Transhalim tiba tepat waktu lagi. Beliau menjemput tidak lama setelah hujan deras turun. Alternatif liburan dalam kota yang bisa dipilih, walau dekat atau sudah pernah, tapi kan anak-anak belum tentu bosan. Semoga sharing ini bermanfaat. ^^



              18 April 2014