January 31, 2015

Merawat Kulit Semasa Hamil

Selamat atas kehamilannya! Tentunya bagi seorang perempuan sangat bahagia ketika dinyatakan hamil. Baik pada kehamilan pertama ataupun kehamilan berikutnya. Menjadi calon ibu, atas janin yang dikandungnya. Namun, ketika menjalani proses kehamilan tahap demi tahap ada saja beberapa pengorbanan dan keluhan yang bisa dialami. Mulai dari persoalan asupan makanan seperti rasa mual, soal emosional, perubahan kondisi fisik, gigi yang ngilu, nyeri otot, sampai soal kulit yang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor hormonal. Semua itu wajar saja dan bisa dialami ataupun tidak dialami sama sekali oleh para ibu hamil (bumil).

Namun, perubahan itu harus diatur agar bumil tetap merasa nyaman, sehat, dan terawat. Hal yang perlu diwaspadai adalah keamanan produk yang dikonsumsi. Dalam tulisan ini saya akan membahas soal perawatan kulit semasa hamil. Soal jerawat dari usia remaja sebenarnya sudah menjadi problem saya pribadi, kadang muncul banyak kadang sedikit tergantung kondisi hormonal. Nah, ketika hamil, hal ini semakin mempengaruhi kondisi fisik terutama soal wajah. Tapi karena obat-obatan sangat terbatas untuk digunakan maka perawatan dengan bahan natural menjadi pilihan.

Beberapa produk paket acne series yang sebelumnya rutin saya gunakan, serta merta harus dihentikan ketika mengetahui kabar kehamilan ini. Dari komposisi memang halal dan aman, namun salicylic acid yang ada hampir di tiap komposisi acne series membuat saya tidak yakin untuk terus melanjutkannya. Ketika konsultasi ke DSOG pun beliau hanya menyarankan, tidak usah diobati macam-macam. Nanti setelah melahirkan akan hilang dengan sendirinya. Jadi bersabarlah menunggu 9 bulan. Namun, di masa menyusui pun tetap harus waspada terhadap produk kosmetik yang aman dikonsumsi.

Ilustrasi gambar: from web

  • Untuk kebersihan wajah saya hanya menggunakan sabun zaitun batangan Duru Natural;
  • Penggunaan scrub untuk mengatasi komedo bisa diganti garam dapur;
  • Untuk masker bisa menggunakan satu sendok madu yang dipanaskan, atau bedak dingin, atau irisan buah-buahan (strawberry, lemon, ketimun, pepaya);
  • Bila kulit sangat kering, bisa oleskan minyak zaitun (yang biasa untuk masak, bukan produk kosmetik) atau minyak VCO yang diratakan tipis ke seluruh bagian wajah. Dipakai maksimal 30 menit saja, kemudian dibilas;
  • Jika ada jerawat memerah, bisa ditetes sedikit minyak habbatusauda. Semuanya serba alami, dan bisa diperoleh di dapur. Cuma memang tidak cespleng dan kurang praktis untuk dibawa-bawa berpergian, tapi paling tidak perawatan ini bisa dilakukan di rumah sambil mengerjakan aktivitas lainnya.

Adapun beberapa praktik perawatan kulit wajah semasa hamil yang saya lakukan antara lain:
Dalam menjaga kesehatan kulit semasa hamil, di samping beberapa perawatan di atas, kita juga bisa melakukan hal-hal berikut: 1) banyak konsumsi air putih, minimal dua liter sehari; 2) menggunakan body butter atau minyak zaitun untuk mengurangi stretch mark; 3) mandi 2-3 kali sehari untuk menjaga kebersihan tubuh. Terlebih lagi ketika hamil, biasanya kita akan merasa cenderung lebih panas dan berkeringat; 4) jika kulit terlalu berminyak gunakan bedak tabur, jika kering gunakan bedak padat; 5) menghindari segala produk pemutih.

Adapun dalam penggunaan kosmetik (make-up, parfum, pewangi, lotion, dll) bumil bisa memilih bahan yang relatif aman. Karena keamanan dan kehalalan produk harus menjadi prioritas utama dalam memilih apa yang ingin kita konsumsi sebagai seorang muslimah. Dengan memperhatikan label komposisi produk, mengecek zat-zat berbahaya, merupakan langkah yang harus dilakukan sebelum menggunakan produk kecantikan (dalam kondisi hamil, menyusui, maupun tidak hamil). Semoga dengan begitu kita terhindar dari paparan efek produk yang berimplikasi pada penyakit di kemudian hari. Be smart, be glowing! (*)


*) re-post my article from: mommee.org

Mengatasi Jerawat

Jerawat selalu saja jadi masalah setiap orang terutama wanita, tak terkecuali saya. Hehe. Sejak remaja mulai deh yang namanya jerawat selalu mampir datang dan pergi, pyuuuh! Diobatin macem-macem tetap aja datang tak diundang.

Akhirnya sejak mulai kerja, saya mulai memperhatikan penampilan deh. Direkomendasikan oleh orang kantor juga sebaiknya ke dokter kulit aja. Akhirnya saya menjalani perawatan wajah deh tuh kurang lebih 2 tahun di dr. Inong Kirana, Sp.KK Cililitan. Alhasil, cling! Memang wajah saya bersih, kinclong. Makan obat oral juga dan berbagai pantangan lainnya yang membuat 'merana' hiks. haha. Iyalah karena pastinya ga bisa makan seafood, mengurangi minyak, dan sejumlah pantangan lainnya.

Sejak menikah, saya baru mulai mau kontrol lagi. Tapi suami gak sreg, karena memang antriannya boooow. Pendaftaran aja dari abis shubuh sudah ada yang datang. Udah gitu kudu terapi obat. Akhirnya suami memutuskan untuk gak usah melanjutkan lagi, toh dia juga no problemo, menerima saya apa adanya. Katanya dari dulu saya juga udah jerawatan, hehehe. Selain itu kita juga langsung program untuk kehamilan, jadi pasti obat-obatan yang berhubungan dengan kulit akan kontraproduktif untuk dikonsumsi bumil. Alhamdulillah saya juga langsung hamil setelah 1 bulan menikah :)

Alasan lainnya suami adalah soal keseimbangan hormonal, pastinya jerawat akan berhenti sendiri sesuai perkembangan usia biologis. Mama saya juga dulu begitu sih, berhenti jerawat pas menopause dan badan jadi melar. Hehe. Jadi mungkin itulah kenapa saya gak pernah mengalami masalah berat badan, karena hormon menyeimbangkannya dengan munculnya jerawat, hahay! Begitu juga soal stretch mark yang kerapkali dialami ibu-ibu pasca lahiran, alhamdulillah gak muncul di kulit saya, yeaay alhamdulillah ala kulli hal.

Dalam perkembangannya setelah bertahun-tahun hamil dan menyusui berurutan, kemudian selesai menyapih anak kedua, saya pun tergiur pakai ini itu kosmetik yang diiklankan di sosial media dengan baca referensi dan testimoni juga tentunya. Tapi tetap saja membuat kulit ketergantungan, karena memang sesungguhnya terapi kulit bukanlah penyakit yang cespleng diobatin langsung hilang. Tapi merupakan perawatan yang harus dijaga dengan seimbang, dari luar tubuh melalui aktivitas diri (olahraga) faktor paparan udara, dan kebersihan kulit juga dari dari dalam tubuh, dengan menjaga asupan makanan dan minuman.


Akhirnya ujung-ujungnya saya pilih kosmetik bermerk umum aja deh, yang jelas sumber dan halalnya. Untuk paket pembersih dan penanganan jerawat langsung saya pakai Wardah acne series. Untuk sabun pembersih saya pakai Duru Natural, ini juga ga sengaja nemu pas umroh di Arab. Ada sabun zaitun koq kayaknya bagus, murah lagi harganya cuma 1,95 SR. Di Indonesia ada juga sih yang jual 15 ribu rupiah. Jadinya karena cocok, saya minta bawain Papa sekalian banyak kalau pulang ke Indonesia. Trus untuk masker, kalau lagi males pake yang alami saya pakai bedak dingin Saripohatji. Bedak jadul rekomen teman yang jualan di Instagram. Saya baru dikasih tester padahal 3 bungkus, tapi sampe berbulan-bulan gak abis-abis nih tester. Ini cocok untuk jerawat yang lagi meradang.

Udah deh, perawatan simple aja gak mengandung resiko. Ya kalau jerawat muncul lagi dihadapi aja sebagai takdir. Haha. Toh hal lain banyak yang mesti saya syukuri sebagai anugerah. Makan melulu dan rajin ngemil tapi badan gak melar, kan sesuatu juga buat perempuan. Hihi. Yang terpenting adalah suami ridho dan no problemo, thats the point!

Karena berhubung sekarang lagi hamil anak ke-tiga, saya berhenti dulu deh acne seriesnya. Karena mengandung salicylic acid yang tidak aman bagi bumil. Untuk terapi dan perawatan kulit wajah selama hamil, bisa baca di artikel saya selanjutnya. So, acne = it doesn't a big problem! (*)

Mancing di Saung Mang Adjo

Kegiatan ini sebenarnya tahun 2012 lalu, tapi baru sempat terdokumentasikan. Awalnya kita belum yakin mau pergi, karena menunggu konfirmasi keluarga teman-teman ayah. Tapi jadinya berangkat juga. Tujuannya ke Saung Mang Adjo, Karawang. Kegiatan utama memancing di kolam, makan siang, dan sedikit aktivitas permainan outbond anak-anak.

Seperti biasa, ayah selalu siap dengan perlengkapan memancingnya dan bunda menyiapkan bekal pakaian dan snack untuk anak-anak. Kami berangkat ahad pagi dari rumah nenek, lanjut melalui tol menuju Karawang Barat. Perjalanan lancar tanpa hambatan kemacetan, kami tiba sebelum pukul 12. Parkiran penuh sekali, tampaknya warga daerah sana pun turut menjadikan tempat ini sebagai tujuan rekreasi keluarga. Terlebih lagi di jam makan siang.

Anak-anak langsung tertarik pada arena outbond di sisi paling kanan saung. Kakak (3y) mencoba flying fox jalur yang tidak pendek tapi cukup tinggi untuk anak seusianya (tidak ada pengaman pula), titian tali keseimbangan, dan tali tambang webbing. Adik (2y) mencoba masuk ke gua kepala ikan, papan keseimbangan, ayunan, perosotan, mereka juga naik dayung getek bertiga dengan bunda. Ayah masih fokus mempersiapkan umpan dan joran untuk memancing.

Sebenarnya sih kurang seru ya memancing di kolam, karena pasti dapat ikan, hehe. Tapi tak apalah mengisi liburan yang tak jauh dari kota, pengalaman, sekalian makan siang di saung, dan ternyata tempatnya pun cukup kondusif untuk arena permainan anak. Menu makanan cukup variatif dengan harga terjangkau.

Selesai bermain, kakak dan adik langsung makan di saung tepi kolam sambil menunggu ayah mancing dan bergantian memegang kail dan ikannya. Bunda ngeri juga takut mereka nyemplung kolam, hehe tapi syukurnya mereka hati-hati. Alhamdulillah ayah mendapatkan ikan kurang lebih 3 kg. Setelah semua puas, kegiatan sudah selesai, dan hari semakin sore kami bersiap untuk pulang. Orang-orang juga beranjak pulang, petugas kebersihan langsung merapihkan semua arena, dan tempat mulai sepi.


Ikan mas hasil pancingan semua ditimbang dan dibayar, dahulu harganya tidak terlalu berbeda dengan beli ikan di pasar. Kami beranjak pulang, ikan sebagian kita berikan ke nenek untuk diolah. Cukup menyenangkan bagi anak-anak, dan orang tua yang butuh penyegaran luar kota yang tidak terlalu membutuhkan banyak persiapan dan alokasi waktu untuk menginap. Happy fishing!(*)


*) repost my article from: mommee.org

Oseng Daging Brokoli

Dapat daging qurban tapi bingung mau diolah apa? Padahal freezer sudah tidak memadai untuk simpan banyak bahan makanan beku. Nah, sekarang kita coba cicil masaknya. Menu aslinya saya dapatkan dari aplikasi Sajian Sedap dengan sedikit perubahan dan variasi tambahan, bisa disesuaikan juga dengan selera masing-masing keluarga. Langsung aja yuks…


Bahan:
-    Daging sapi, iris tipis memanjang 250 gr
-    Brokoli 1 bonggol kecil


Bumbu:
-    Bawang putih, 2 siung dicincang kasar
-    Kecap manis 2 sdt
-    Garam ½ sdt
-    Merica bubuk ½ sdt
-    Gula pasir ½ sdt
-    Minyak untuk menumis


Cara:
1.    Rebus daging terlebih dahulu, air secukupnya, api kecil, tutup rapat. Bila sudah ½ matang matikan api.
2.    Siapkan brokoli, potong, cuci bersih, tiriskan.
3.    Panaskan minyak. Tumis bawang putih hingga harum. Masukkan daging sapi dan sedikit air kaldunya dari rebusan sebelumnya. Aduk sampai berubah warna.
4.    Masukkan kecap manis, garam, merica bubuk, gula pasir. Aduk rata.
5.    Masukkan brokoli. Tambahkan lagi sedikit air kaldu, hingga meresap. Bila suka bisa tambahkan minyak wijen atau saus tiram. Aduk rata. Tunggu hingga brokoli ½ matang (jangan terlalu layu). Angkat sajikan hangat.


Mudah bukan? Tidak perlu ngulek, blender bumbu, atau menunggu rebusan daging yang terlalu lama. Selamat mencoba ^^


*) repost my article from: mommee.org

Hello 2015!?

Assalamu'alaikum...


Hai hai, dadah-dadah sambil 'nyapu' (red: beberes blog yang agak berdebu karena lama gak ditengok :p). Huhu. Dah lama gak dilihat-lihat nih 'rumah', karena saya lagi konsentrasi tulisan di 'rumah' yang lain. Yup, web komunitas tampilan baru yang terus melakukan pengembangan.


Beberapa tulisan akan saya copy ke sini juga ya nanti.


Sebenarnya ada beberapa draft tulisan lain dan karena di mobile juga bisa langsung upload tulisan blog dari aplikasi, cuma kayaknya gak puas ngetik di henpon. Halah males aja ini mah, kebanyakan ter-distract dengan buka aplikasi lain :p


Belum lagi ada beberapa 'proyek' tulisan pribadi yang harus selesai sebelum HPL nih. Berlomba dengan waktu, huhu. 27 weeks already, hamil anak ke-tiga :D


Doakan ya temans, semoga semua selesai dengan konsisten & target yang tercapai. yooooosh. Semangaaaat!!!

Wanita Shalihah: Suatu Gelar atas Pencapaian Amal

Dunia ini penuh perhiasan dan perhiasan paling indah ialah wanita shalihah (HR. Muslim)

Bulan Desember lalu, Alhamdulillah diberi kesempatan untuk menghadiri forum dengan pembicara yang sangat lugas, enerjik, dan berwawasan luas (ibu Nurhamidah, Lc). Sebenarnya sih tulisan ini bukan tema intinya, tapi kira-kira apa yang bisa dipetik dari materi tersebut (Uluwwatul Himmah= Keinginan yang Kuat/Cita-Cita) berkaitan dengan tujuan menjadi wanita shalihah.

Mungkin sudah tak asing lagi ya mendengar kata-kata wanita shalihah, buku-buku tentang ini sudah banyak yang menerbitkan, pun lagu dangdut oleh Bang Haji Roma *eeaaa. Sebagian besar muslimah tentunya ingin mencapainya, namun dalam meraih gelar shalihah (SLH) tentu ada pencapaian amal minimal yang harus dilakukan. Hal ini yang kadang ketika dijalankan susah-susah gampang, atau gampang-gampang susah. Phyuuuh! *elap keringet.

Di awali dengan penciptaan seorang hamba di dunia, tentunya untuk beribadah dengan pencapaian cita-cita tertinggi yaitu sebagai syuhada, bukan hanya husnul khotimah. Karena gelar syuhada pun harus diniatkan hingga tertulis dalam catatan malaikat Rakib tentunya. Walau mungkin seperti panglima perang terdahulu yang tidak gugur di medan perang, wafat di tempat tidur pun tapi niat syuhada senantiasa terpatri dalam diri, maka insya Allah tetap menjadikannya seorang syuhada. Ibu Nurhamidah pun pernah menanyakan soal cita-cita tertinggi ini pada anak-anak kecil yang rutin berkunjung ke rumahnya. Masya Allah cita-citanya bikin merinding euy. Visi jelas, misi juga terbayang dan semua ada kata-kata syahidnya.

Jalan menuju cita-cita (himmah) akhir akan seperti apa, tentu tergantung kiprah kita masing-masing. Nah titik tekan dalam hal ini adalah grand design yang disiapkan dalam bingkai dua kata tersebut: WANITA dan SHALIHAH. Dimulai dengan membiasakan diri dengan kebaikan-kebaikan, dan siap ketika KAPAN (qodho) datang dan merancang BAGAIMANA (qadr) keadaannya. Jadi membicarakan hari akhir itu penuh dengan visi dan semangat bukan menjadi suatu ketakutan. Berikut gambaran peran dan status muslimah, dari sisi tanggungjawabnya.

WANITA
(simbol sex & gender)
SHALIHAH
(gelar)
Sumur
Suci dan bersih
Berkontribusi dalam berbagai hal amal shalih.
Beramal shalih di mata Allah (QS:22:77)
Berbuat baik kepada siapapun dengan bersama-sama (QS:4:36).
Kasur
Suami dan anak
Dapur
Halal dan baik (thoyyibann)

Menjalankan peran sebagai WANITA diidentikkan dengan 3 hal di atas: sumur, kasur, dan dapur. Tapi bukan seperti pembahasan tema-tema keperempuanan pada umumnya, bu Nurhamidah menjelaskannya bahwa 3 tempat itu merupakan simbol.

Sumur: bukan terbatas pada perempuan harus nyuci. Lah yang nyuci kan jaman sekarang mesin cuci tinggal tekan tombol :p. Tapi lebih daripada itu adalah mengenai tanggung jawab kesucian dan kebersihan. Fiqh bab thaharah salah sataunya harus diketahui setiap muslimah, dari soal air, darah, najis, dan adab lainnya. Terkait juga soal kebersihan dan kesucian rumah dan isinya (anak-anak). Jangan sampai anak kita buang air berdiri dan malah ke selokan di luar rumah (seperti fenomena anak tetangga yang pernah saya lihat, hiks). Kebersihan pakaian dari ompol misal, mengajar anak istinja, persiapan masa akhil baligh, dll.

Kasur: bukan juga terbatas pada soal kebutuhan biologis, tapi simbol ini terkait harga diri suami dan pendidikan kepada anak-anak. Menjaga rahasia dan harta sebagai amanah suami, mendidik dan memelihara anak-anak titipan Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Dapur: bukan juga soal masak dan perabotan rumah tangga. Tapi simbol ini terkait dengan memastikan tiap makanan yang masuk kepada seluruh anggota keluarga terutama anak-anak berasal dari sumber penghasilan dan bahan yang halal dan baik. Karena semua itu akan menjadi darah dan daging hingga kelak mereka dewasa.

Terkait gelar SHALIHAH, ini didapat dengan praktik (amalan) yang shalih. Sebagaimana gelar dokter gigi, kalau ada gelar saja tapi belum pernah praktik periksa gigi pasien, ya gimana atuh mana dipercaya. Jadi menjadi shalihah adalah dengan cara memperbanyak amalan shalih. Sebagai wanita bisa saja kita berkiprah di bidang pendidikan, di masyarakat-ummat, keahlian dan wawasan di bidang tertentu (syariah, ilmu dunia), dsb. Inilah yang menjadi poin tambahan untuk mendapatkan gelar tersebut. Memperbanyak berbuat baik dengan memilih amalan unggulan yang bisa mendapat poin di mata Allah. Seperti apa desain dan pilihannya semua tergantung kita, mau beramal shalih seperti apa. Banyak contoh yang bisa diambil oleh para shahabiyah, Aisyah yang hafal ribuan hadits, hafshah yang mengarsipkan Qur’an, Shafiyyah bibi Rasul yang berani di medan perang, dan banyak contoh lainnya tokoh muslimah masa kini yang memiliki amal shalih yang juga jariyah.

Semoga kita bisa merancang desain meraih cita-cita tertinggi, melalui amalan shalih, yang menambah pahala kebaikan sebagai bekal diri. Aamiin (*)

August 09, 2014

Menjadikan Alam sebagai Obat

Masih dalam rangkaian seminar yang diadakan oleh Komunitas Peduli Kesehatan di bawah naungan Ormas Salimah, Kamis 24 Oktober 2013 dalam materi kedua yang dibawakan oleh Alamsyah Agus (herbalis). Setelah tak lagi aktif dalam grup SNADA, beliau kemudian menimba ilmu herbal dengan dorongan dari latarbelakang keluarga juga (bapak mertua yang menjadi herbalis).

Dari penjabaran slide dan handout yang diberikan, menurut Pak Alamsyah, perilaku hidup sehat merupakan barang yang langka dalam kehidupan masyarakat kita saat ini. Padahal sejak berabad-abad sebelumnya Rasulullah SAW sudah memberikan contoh. Terbukti beliau hanya sakit tak lebih dari 5 kali selama hidupnya. Contoh hidup sehat dengan herbal tak hanya ketika sakit kita utamakan konsumsi herbal. Namun, hidup sehat ala Rasul juga harus diterapkan. Waktu tidur, komposisi makanan yang dikonsumsi, rangkaian ibadah, serta resep tanaman herbal yang tepat.

illustration: from web
Pengertian herba di sini adalah semua tanaman (mulai akar, umbi, empon, kuit pohon, dan daun) yang memiliki khasiat sebagai obat. Indonesia merupakan negara kedua terbesar setelah Brazil yang memiliki jenis ragam tanaman obat 30 ribu – 40 ribu jenis tanaman. Namun menurut data Departemen Pertanian tahun 2007, baru kurang dari 10% yang berhasil dimanfaatkan.


Setelah obat-obatan yang melewati proses kimia memberikan efek samping setelah pemakaian yang lama, maka konsep back to nature mulai bermunculan. Mulailah ‘orang kota’ melirik terapi alternatif seperti yoga, senam pernapasan, akupuntur, akupresur, pengobatan dengan herba, dll.


Herba dalam penggunaannya memiliki beberapa prinsip:
  • Mengikuti bentuk morfologi tanaman (seperti hati, jantung, ginjal, dll)
  • Herba terbaik adalah herba yang berada dekat dengan lingkungan tempat tinggal (herba lokal lebih baik dari herba luar). Di sini beliau menyampaikan, bukan berarti menegasikan hadits bahwa habatusauda adalah obat dari segala penyakit. Namun, pengobatan herba terbaik sesungguhnya tak jauh dari lingkungan tempat tinggal kita.
  • Tidak semua herba cocok dengan tubuh kita. Karena yang terpenting adalah bagaimana menemukan herba yang cocok dengan tubuh kita.
  • Tidak semua herba memiliki efek toksifikasi sehingga menyebabkan detoksifikasi, karena tubuh selalu berdaptasi dan mengadaptasi setiap herba yang dikonsumsi.

Waktu pengambilan herba:
  • Daun: dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga, dan sebelum buah menjadi masak.
  • Bunga: dikumpulkan sebelum atau segera setelah merekah secara sempurna.
  • Buah: pada umumnya yang dimanfaatkan adalah yang dipetik ketika ranum.
  • Biji: sebaiknya dikumpulkan dari buah yang telah masak sempurna.
  • Akar, umbi, rimpang, bulbus: dikumpulkan pada saat proses pertumbuhan berhenti atau ketika pertumbuhannya sempurna.

Teknik mengelola herba:
  • Digodok/direbus: teknik tradisional khususnya untuk menjaga kesehatan
  • Diseduh: untuk yang berbentuk bunga/serbuk
  • Diekstrak: digunakan pada kondisi tubuh yang sudah lemah, baik secara genetik, maupun penyakit berat lainnya.

 Hal-hal penting yang perlu diketahui dalam penggunaan herba:
  • Cara konsumsi herbal pada umumnya 1 kali kur dengan jeda istirahat, baru kemudian dilanjutkan lagi. (1 kur = 10 hari ), isitirahat tidak konsumsi sama sekali (3 hari).
  • Ada herba yang bisa dikonsumsi terus-menerus seperti madu.
  • Untuk sarang semut per 7 hari, karena ada efek karsinogen.
  • Untuk daun salam 1 kur + 3 hari istirahat untuk terapi gula darah. Mencapai peak (puncak) di hari ke-8. Rumusannya: 40 % -> 30% -> 15% -> 5 %
  • Terapi batu empedu: setiap pagi (2 buah apel fuji) sampai siang tidak makan, proses 7 hari.
  • Terapi liver: kurkuma/temulawak. Dengan perbandingan BB x 10 mili = … temulawak per/hari
  • Prinsip herbal panas (chi) vs dingin
  • Rumus herbal: 4 sifat 5 rasa. Dipakai secara bijaksana, dimulai dengan cara yang sederhana, jadi tidak mudah terpengaruh oleh iklan.
  • Penelitian herbal melalui proses yang sangat panjang. Karena harus melalui uji klinis. Misalnya: penelitian sirsak untuk kanker belum selesai diteliti. Paling maksimal bisa digunakan untuk mengobati kanker perut. Begitu pula dengan penelitian kulit manggis. Memang benar tinggi antioksidan, tapi penelitiannya belum selesai. Masih butuh waktu 10 – 20 tahun lagi.

Dari penjabaran di atas, menjaga kesehatan dan pengobatan melalui herba dapat dijadikan solusi alternatif di samping obat-obatan kimia. Jadi kita tidak juga menegasikan obat kimia, karena memang ada penyakit yang bisa diterapi lama, namun ada pula yang harus diberikan obat kimia agar khasiatnya lebih cepat terasa. Toh obat kimia juga sumber awalnya dari alam juga, yang selanjutnya melalui proses kimiawi disertai uji klinis. Bolehlah kita melihat Cina yang apik dalam memadukan terapi kimia dan ramuan herbal yang sudah turun-menurun dalam terapi pasca operasi yang dilakukan di RS.


Jika kita memilih konsumsi herba sebagai langkah terapi kesehatan bukanlah ala kadarnya tanpa rumus dan resep yang pas, karena jika tidak sesuai akan berdampak bagi kesehatan. Oleh karena itu hendaknya pengambilan keputusan pengobatan secara herbal harus melalui konsultasi herbalis ahli dan disesuaikan dengan kondisi tubuh. Karena tidak semua herba cocok digunakan oleh setiap orang. Sebagaimana resep dokter yang tidak semua cocok bagi pasien, walupun keluhan dan penyakitnya sama. Di samping itu semua, menjadikan sumberdaya alam sebagai obat juga harus diimbangi dengan hidup sehat yang seimbang sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah tauladan kita.(*)