June 11, 2014

Berbagi Peran & Tanggung Jawab antara Orang Tua-Guru

photo doc: from web
Liburan tanggal merah hari ini Kamis, 29 Mei 2014 saya menghadiri orientasi siswa baru untuk si Adik, sekaligus daftar ulang si Kakak. Dalam orientasi kali ini diperkaya dengan materi dari Pak Agus Fatah, seorang konsultan pendidikan.

Dalam materi yang disampaikan melalui slide dengan pembawaan yang khas dan interaktif, Pak Agus menyampaikan bahwa orang tua dan guru memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam hal berikut:

  • Memberi tauladan
  • Memberi tahu
  • Memantau
  • Menasehati
  • Memperbaiki
  • Konsekuensi



              Dalam pendidikan anak-anak di lingkungan keluarga, harus dimulai dengan kerjasama ayah dan ibu. Ayah diibaratkan sebagai perwakilan dunia luar rumah. Jadi karakter yang melekat pada figur ayah dan bisa ditanamkan ke anak adalah keberanian dan ketegasan. Sedangkan ibu merupakan perwakilan dunia dalam keluarga. Dengan demikian karakter ibu yang melekat dan ditanamkan ke anak adalah kesabaran dan keteguhan. Jika keduanya dijalankan seimbang sesuai visi misi yang sama dalam pendidikan, saling melengkapi dan menutupi kekurangan, serta bisa berbagi tanggung jawab, maka anak yang terbentuk dari pendidikan itu akan keluar dan tumbuh sebagai karakter yang lengkap.

              Adapun dampak ketidakhadiran figur ayah dalam pendidikan (Father Hunger) di antaranya:
              • Anak akan kesepian
              • Tidak percaya diri
              • Rendahnya harga diri
              • Kekanak-kanakan
              • Ketergantungan
              • Sulit mengidentifikasi identitas seksual
              • Kesulitan dalam belajar
              • Kurang bisa mengambil keputusan
              • Bagi anak perempauan mengalami kesulitan menentukan pasangan hidup.

              Sedangkan beberapa tipe pengasuhan khas seorang ayah:       
              • Malam menjelang tidur, anak harus scanning wajah ayahnya
              • Pagi hari sebelum berangka kerja, ketika bangun tidur anak juga harus scanning wajah ayahnya
              • Siang hari ayah menyapa anak via telpon minimal 5 menit. Ini juga untuk menghindari sms/telpon penipuan yang biasanya meminta sejumlah dana untuk ditransfer karena misal si anak kecelakaan dan harus masuk RS. Kalau ayahnya rutin melakukan ini, maka kejahatan seperti itu bisa dihindari. Karena ayah tau kondisi anaknya sebenarnya.
              • Sewaktu hari libur (keep in touch). Jadi berlibur bersama, dengan objek tujuan yang sama tidak sibuk dengan urusan masing-masing. Misal ketika libur jalan ke mall: ibu ke supermarket, anak ke play ground, sang ayah ke toko buku. Jika seperti ini maka tidak ada kebersamaan walau perginya bersama-sama.
              • Tetapkan waktu berharga versi anak.
              • Melakukan olahraga bersama yang disukai anak.
              • Camping bersama, serta aktivitas lainnya yang membangun bonding kebersamaan.
              Dalam membangun kerjasama pendidikan di sekolah, komunikasi antara ortu dan guru harus terjalin intensif. Bahkan dari cerita Pak Agus, ada sekolah yang syarat untuk masuk di sana, ketika ambil raport semua anggota rumah harus bisa hadir. Misal jikalau ada 10 orang (ayah, ibu, kakak, adik, nenek, kakek, satpam, pengasuh, pembantu rumah tangga, tukang kebun) di dalam rumah, semua harus bisa dihadirkan. Karena dalam pendidikan butuh sistem yang baik. Hal ini menyangkut pola pengasuhan, karakter, mungkin juga asupan gizi dalam makanan, sopan santun, lingkungan yang kondusif, dll.

              Semoga dengan pembagian peran yang baik di dalam keluarga, maka peran guru di sekolah yang berfungsi untuk melengkapi sisi akademisnya akan lebih mudah dijalankan. Di sisi lain bila terbangun kerja sama yang baik, maka perkembangan karakter positif anak akan mudah terwujud.(snd)




              Sumber materi: agus_fatah (Pendongeng, Trainer, Motivator, Konsultan Pendidikan)
              dengan beberapa penyesuaian kalimat.

              No comments:

              Post a Comment