October 30, 2012

Smart Choice for Smart Parents

Ketika hamil anak pertama tahun 2008-2009 saya belum tau soal cloth diaper (clodi). Jadi waktu sang kakak lahir, pakai popok kain biasa sampai 2 bulan, setelah itu pakai pospak kalau malam. Dia jadi lebih nyaman karena tidak merasa basah. Kemudian karena saya sibuk dengan tugas tesis, jadi soal perawatan anak seperti masalah popok, MPASI, dll kurang banyak tahu. Apalagi gak ikut milis ibu-ibu. Target saya hanyalah menyelesaikan kuliah dengan segera supaya bisa fokus mengurus anak dan keluarga. Jadi waktu itu sempat ruam ketika memakai pospak merk tertentu. Kasian melihatnya :( Waktu MPASI juga makan instan dan bubur saring. Padahal ternyata banyak menu MPASI rumahan yang tidak membuat alergi. Hmmmmppphh… pokoknya ketika merawat anak pertama benar-benar kurang banyak info. Tapi mudah-mudahan hal itu tidak mengurangi standar kesehatan dan pendidikan anak di usia emasnya. Bersyukur sang kakak tumbuh dengan perkembangan optimal aspek motorik halus dan kasar juga jarang sekali sakit. Mungkin juga karena lulus sarjana ASIX.

Ketika hamil anak kedua 2009-2010 saya mulai ikut milis kesehatan, ibu hamil, MPASI, dll. Nah, di sinilah saya baru tau ada diaper yang bisa dicuci. Merasa ketinggalan zaman banget deh :p Setelah searching info sana-sini dan invite banyak OS clodi di FB, akhirnya saya memutuskan untuk beralih ke clodi untuk kakak dan adik. Ini baru saya lakukan di usia adik 5 bulan. Agak terlambat juga ya kayaknya. Tapi better late than never khan?? Salah satu yang menyebabkan terlambat juga karena saya harus membujuk suami untuk beralih ke clodi. Suami gak ‘tega’ membiarkan saya mencuci popok yang terkena kotoran, pasti bakalan repot. Saya gak punya asisten rumah tangga (ART) jadi kami berdua saling membantu dalam merawat anak-anak juga mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Terlebih lagi kalau dihitung-hitung saya sekarang punya dua anak bayi (karena sang kakak belum 2 tahun). Tapi akhirnya, suami setuju juga untuk beli clodi.
Kalau soal alasan beralih ke clodi ya jelas supaya sehat, hemat, dan go green. Ini untuk mengatasi soal ruam popok, dua anak saya alergi pospak tertentu. Kalau beli merk mahal, kok rasanya sayang uangnya, karena nanti juga bakalan dibuang. Terasa banget kayaknya pengeluaran per bulan habis untuk pospak. Dulu sengaja banget beli pospak di supermarket supaya dapat diskon. Selain itu kalau melihat sampah bekas pospak, merasa nyampaaaah banget. Seperti apa ya kalau semua ortu di dunia membuang pospak??? Gak kebayang bumi penuhnya… jadi beralih ke clodi sepertinya pilihan cerdas untuk ortu cerdas yang peduli pada kesehatan anak dan bumi tercinta.


 Mulai beli clodi juga dicicil, jadi per-bulan target punya 3 clodi. Selain itu paling tidak masing-masing harus punya 6-10 buah. Kebayang kan clodi-clodi yang akan dikoleksi? Totalnya sekitar 20 buah untuk sang kakak (perempuan) dan sang adik (laki-laki). Waaah soal ini Bunda semangat banget, apalagi pilihan motif clodi lucu-lucu untuk baby girl dan baby boy, warna-warni, kalau lagi SALE wuiiihh gak tahan untuk pesan. Hihihi.

Kalau soal clodi favorite, sebenarnya yang pertama dilirik adalah yang murah. Maklumlah ibu-ibu biasa praktis dengan pospak lalu harus beli clodi, di awal ya terasa mahal. Apalagi masih campur juga menggunakan pospak karena clodi belum memenuhi jumlah ‘kuota’. Jadi pilihan pertama adalah clodi Cina dan lokal. Selanjutnya stok bertambah seiring dengan rasa ingin tahu mengenai clodi baru terutama produk lokal yang murah dan berkualitas. Semoga bisa diwariskan ke adik-adiknya nanti.
 
  

*) dengan ditambah beberapa editan dari tulisan asli, yang memenangi kuis berhadiah 2 buah clodi & feminine pad dari Athailah shop :D

No comments:

Post a Comment