December 03, 2012

Menjadi Perempuan yang Sempurna

Fase kehidupan yang dialami setiap manusia bisa jadi dilewati begitu saja tanpa makna. Dalam antropologi—disiplin ilmu sosial yang salah satunya mempelajari hubungan kekerabatan—kelahiran, pernikahan, kematian merupakan the life cycle (siklus hidup) yang akan dialami oleh manusia pada umumnya. Tampaknya hidup terlihat sederhana. Manusia lahir, tumbuh, dewasa, lalu mati. Namun, hal yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana proses penciptaan manusia dalam rahim ibunya merupakan keajaiban yang luar biasa.
 
Tampaknya bukan hal yang berlebihan jika dikatakan bahwa seorang ibu yang tengah mengandung berada pada kondisi lemah di atas kelemahan. Mengapa tidak? Menopang beban tubuh saja terasa berat, terlebih jika ditambah janin yang kian besar disertai air ketuban dan berat plasenta. Hingga tak heran, terasa miris jika masih saja ada orang di angkutan umum yang membiarkan ibu hamil berdiri di tengah kerumunan penumpang yang berdesakan. Belum lagi jika di awal kehamilan semua makanan terasa tak enak, mual, dan ingin dimuntahkan. Namun pastinya, setiap perempuan seakan selalu memiliki kekuatan untuk melalui itu semua. Karena ia telah dianugerahi kemampuan untuk bisa menghadapinya.

Hal yang diingat ketika hamil anak pertama, saya sedang kuliah semester tiga di pascasarjana sambil menyusun tesis. Syukurnya dosen pembimbing saya memaklumi kondisi saya dan selalu mengingatkan agar tidak stres. Dokter juga tidak menganjurkan untuk cuti, katanya “semoga anaknya menjadi pintar juga ikut ibunya belajar.” Namun, lelahnya kuliah sore hingga malam, naik turun angkutan umum bis dan kereta, rasanya menjadi sirna ketika tahu janin ini tumbuh sehat dalam rahim. Setiap konsultasi DSOG sebentar, berarti tidak ada masalah dengan perkembangannya. Seiring berjalannya waktu di semester kedua, semua rasa mual bisa diatasi. Nafsu makan mulai meningkat hingga tiba saatnya trimester ketiga. 

Satu hal mengenai kelahiran normal. Banyak yang mengatakan melahirkan normal lebih utama dibanding caesar. Namun bagi saya, momentum melahirkan tidak dapat diduga. Ketika seorang ibu diharuskan operasi untuk menyelamatkan ibu dan bayi kenapa tidak. Walaupun secara ilmiah ada yang mengatakan melahirkan normal lebih utama. Akan tetapi tidak semua kondisi mendukung untuk melahirkan dengan normal (pengecualian jika ada kasus RS/DSOG yang sengaja atau tidak sabar menangani pasien agar RS mendapat pemasukan biaya). Tentu semua orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk merasakan sakit kontraksi hingga akhirnya melahirkan secara normal. Saya merasa sempurna sebagai seorang perempuan (what a perfect life). 

Tanggal 24 Maret 2009 menjelang pukul 22.00, perjuangan di ruang bersalin sepertinya tak cukup jika dijelaskan dengan kata-kata. Saya tidak tahu bagaimana teknik mengejan, menarik nafas, momentum kontraksi, dan lain-lain. Karena DSOG yang dibantu dengan beberapa bidan (saya tidak menghitung) dan dari berbagai arah, kakak masih saja belum lahir. Awalnya mama yang menemani saya, tetapi karena tidak tega akhirnya diganti dengan suami. Tak lama setelah itu kakak langsung lahir. Akhirnya, sepertinya kakak menunggu ayah datang. Terharu campur bahagia. Kakak tidak langsung menangis, sepertinya air ketuban sedikit tertelan. Sedih karena tidak sempat IMD, karena kakak butuh penanganan khusus. Kata suami bayinya besar. Padahal kemarin ketika kontrol terakhir perkiraan 2800 gram, ternyata esok ketika lahir 3550 gram. Sepertinya anjuran dokter untuk mengurangi karbohidrat di trimester ketiga agak terlambat. Padahal ketika hamil selalu saja dibilang kecil jika bertemu dengan ibu-ibu lain. Mungkin ruang rahim saya agak panjang, jadi ketika hamil terlihat kecil.Sebagai calon ibu yang baru pertama kali hamil, saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya kontraksi. Berbagai buku tips kehamilan dan tips melahirkan saya baca, sayangnya saya tidak tahu info mengenai milis para ibu hamil karena sibuk dengan deadline tesis. Tapi saya tahu ada istilah braxton hicks contractions (kontraksi palsu). Katanya rasa kontraksi seperti nyeri saat haid. Tapi ketika haid saya justru jarang merasa nyeri. Jadi benar-benar tidak dapat dibayangkan. Hingga saatnya sehari sebelum melahirkan saya kontrol rutin ke DSOG seperti biasa. Katanya maksimal seminggu lagi saya melahirkan. Lalu setelah itu saya pulang larut karena ikut acara suami hingga malam. Esok paginya saya merasa mulas. Padahal saat itu baru mencuci berbagai baju bayi dan gurita ibu. Benar-benar kurang persiapan. Tapi suami menenangkan dan memegang perkataan dokter, bahwa jadual saya masih seminggu lagi. Tapi kenapa hingga siang hari kontraksi terasa bertambah sering. Akhirnya saya menelepon mama dan teman. Katanya memang begitu tanda akan melahirkan. Kontraksi hingga kontraksi, rasanya bertambah sakit teramat-sangat. Baca kembali buku tips melahirkan untuk mengatur dan mencari posisi yang nyaman, tapi tetap saja sakit (kata suami, saya text book banget. Biarlah! Tapi suami juga membantu memijat) Hingga sore, ternyata memang keluar flek, saya akhirnya ke RS. Setelah CTG dan periksa darah (dengan HB agak rendah), ternyata saya sudah pembukaan lima. Alhamdulillah tetap berharap melahirkan normal tanpa tranfusi darah terlebih dahulu.

Kini beri kesempatan saya untuk bercerita. Saya bersyukur termasuk orang yang beruntung ketika dua bulan setelah menikah langsung dinyatakan positif hamil. Kebahagiaan yang tak bisa dipungkiri manakala melihat ada janin dalam rahim ketika di USG. Namun, rasa mual dan berbagai ketidaknyamanan juga dirasakan. Melihat nasi rasanya mau muntah. Saya termasuk orang yang senang makanan berbumbu kacang seperti gado-gado, ketoprak, siomay, batagor, sate, dan lain-lain. Tapi ketika hamil rasanya mual membayangkan semua makanan itu. Saya juga biasanya suka dengan mie ayam, namun entah mengapa. Jangankan melihat mie ayam, melihat gerobak abang tukang mie ayam saja rasanya sudah mual. Selain itu saya menjadi sangat sensitif terhadap bau, wangi parfum, dan lain-lain. Turun dari bis langsung muntah setelah mencium wangi parfum karyawati kantor, atau ketika naik taksi AC-nya minta dimatikan. Belum lagi hormonal yang berpengaruh pada kulit, yang menjadikan wajah semakin berjerawat. Sungguh ujian yang harus dihadapi dalam trimester pertama. Padahal di masa inilah perkembangan janin sangat pesat, sehingga asupan makanan juga penting bagi diri sendiri dan janin. Akhirnya saya menyikapinya dengan minum jahe dan susu yang tidak membuat mual. Dokter kandungan saya juga tidak memberikan obat macam-macam, sepertinya hal ini memang lumrah dan harus dijalani.

Bersyukur bisa melahirkan normal dan bayi yang sehat, walaupun kakak harus diberi antibiotik karena sedikit menelan air ketuban. Setelah itu kakak langsung rawat inap bersama dengan saya dan suami. Bahagia rasanya ketika menyusui, mengganti popok, bangun malam. Walaupun sempat baby blues beberapa hari ke depan. Namun semua lelah itu seakan sirna karena kebahagiaan lahirnya satu anggota baru dalam siklus kehidupan keluarga saya. Melihat dia tumbuh sehat karena ASI yang diberikan, berjalan, berlari, berbicara, bertambah cerdas, dan bisa memangil saya dengan sebutan Bunda.

Mungkin bila dibaca, proses kehamilan saya sama seperti ibu-ibu lain pada umumnya. Walaupun demikian pengalaman unik tiap orang tentunya akan tetap diingat. Karena hal itu menjadi cikal bakal munculnya generasi penerus bagi sebuah peradaban masa depan. Generasi yang lebih baik daripada orang tua dan manusia sebelumnya. Inilah yang kemudian menjadi tanggung jawab utama para orang tua, yaitu membesarkan dan mendidik buah hati mereka. Hingga akhirnya pilihan untuk menjadi full time mother atau pun working mom merupakan hak setiap ibu dalam memilih kehidupannya dengan tidak mengabaikan hak anak-anaknya. Mulai dari memberikan ASI, pendidikan dunia, dan bekal akhirat hingga dia dewasa untuk meneruskan siklus kehidupan generasi sesudahnya. Itulah mengapa saya baru menyadari ruang rawat inap di RS saya melahirkan bernama Ruang Amanah. Karena kita harus paham, ketika menjadi orang tua maka sesungguhnya Allah telah menitipkan amanah-Nya kepada kita untuk dirawat. Menyempurnakan jiwa mereka sebagaimana telah sempurnanya Allah menciptakan makhluk-Nya ke dunia. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang amanah dalam mengemban tugas mulia ini hingga suatu saat nanti anak-anak kita tidak akan menuntut pertanggungjawaban kita sebagai orang tua yang disebabkan kelalaian diri kita, atau merasa kurang mendapat kasih sayang kita. Semoga tidak. (*)

31 Maret 2011

No comments:

Post a Comment