January 27, 2014

Fenomena Rokok di Indonesia

Hari ini (5 April 2013) saya melihat di youtube link film dokumenter tentang perkembangan rokok di Indonesia, berikut linknya: http://www.youtube.com/watch?v=mgk1MIHSnT4. Perspektif AS sbg negara maju dan sadar akan kesehatan dari merokok menyebabkan beberapa kebijakan yang positif bagi perkembangan negeri Paman Sam itu. Sebut saja New York dg Times Square nya saat ini sudah tidak ada billboard yang memajang iklan rokok. Pajak rokok naik tinggi, kebijakan pemerintah ketat dari regulasi, dan bahkan orang malu jika terlihat merokok di tempat umum. Bandingkan dengan Indonesia, kalau lagi mudik ke kampung aja tidak akan sulit kita mencari iklan rokok yang dipajang sebagai nama warung di pinggir-pinggir jalan. Kompensasi yang praktis dan jalan singkat untuk menghindari pajak iklan saya pikir.

Indonesia dengan hasil alam yang melimpah seperti tembakau serta bahan dasar lain dalam pembuatan rokok, merupakan syurga bagi para pencinta "Tuhan Sembilan Senti" kata Taufiq Ismail ini. Dari mulai penjualan rokok yang bisa ditemukan di mana saja, bahkan mirisnya di warung kecil dekat sekolahan hingga harganya yang bervariasi tergantung jenis dan komposisinya. Iklan merebak di mana-mana walaupun di televisi sudah dibatasi tidak di waktu utama (diperbolehkan mulai pukul 21.00 ketika anak-anak sudah terlelap) tapi di jalan umum tidak akan sulit untuk dijumpai.

Sebenarnya apa yang salah dengan merokok ini? "Toh duit-duit gue" (mungkin itu kata-kata sebagian para perokok). Sebagian daerah sudah menjadikan ini sebagai tradisi. terutama penduduk desa, tak jarang yang merokok. Sedangkan masyarakat urban merokok disertai style tambahan menjadikan orangnya mungkin merasa dianggap bergaya. Dari sisi medis, sudah pasti merokok merusak kesehatan terutama organ paru-paru hal ini pun sudah diketahui oleh perokoknya sendiri. Tapi mengapa tidak dapat dihindari. Bahkan perokok pasif merupakan pihak yang sebenarnya paling dirugikan. Syukurnya Perda Larangan Merokok di beberapa tempat umum sudah disahkan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

Hal yang paling mencenggangkan adalah ketika balita merokok di Sumatera Utara yang berhasil diungkap di media beberapa tahun lalu. Siapa yang salah? Apakah susu yang menjadi kebutuhan umum balita sudah tergantikan oleh rokok? Sungguh menyeramkan (horrible). Dalam liputannya film dokumenter tersebut, balita itu didatangi dan dalam perkembangannya mendapatkan terapi medis dan psikis termasuk orang tuanya.

Dalam satu kasus seorang anak dicoba disuruh membeli rokok di warung, dengan mudahnya anak tersebut bisa membelinya. Padahal di AS ada batasan usia minimal yang boleh membeli rokok. Intinya rokok di Indonesia sudah membudaya dan 'dinikmati' dengan segala kelebihan dan kerusakannya. Termasuk penyelenggaraan Konferensi Tembakau tingkat dunia World Tobacco Asia (WTA) yang diadakan di Indonesia. Kasiaaan ya Indonesia, apakah pemerintah sudah tak punya daya dan upaya? hiks.

Secara gamblang humas produsen rokok asing di Indonesia mengatakan rokok sebenarnya ditujukan untuk golongan tua. Tapi pakar iklan rokok dosen komunikasi yang berhasil diwawancara dalam penelitian ini mengatakan jelas bahwa sasaran utama produsen rokok adalah generasi muda. Yaah gak heran juga sih, dari iklan-iklan yang ditampilkan aja gaya, bahasa, model, dan persuasinya sangat jelas prospek untuk para pemuda. Oooh man!

Jadi kita harus berbuat apa nih? Berbagai kebijakan dalam negeri tentunya tak dapat dilepaskan dari kebijakan pemerintah. Dibutuhkan political will yang sangat kuat untuk membentuk kebijakan yang pro kebaikan secara umum. Masa sih AS aja bisa begitu kita gak? Kalau pabrik rokok ditutup sih jangan, karena kan menghilangkan investasi dan tenaga kerja juga. Cukai nya aja ditinggikan, pembatasan usia pembeli, dengan pembatasan toko penjualannya. Rokok aja belum beres ya, belum lagi kita bahas minuman keras (miras), aaaargggh. Anak-anak semakin dekat dengan penjualan miras, di minimarket terdekat mudah dibeli tanpa ada ketentuan KTP or something lah. Hooo mo jadi apa nih generasi penerus. Perokok pemula secara persentase semakin muda usianya (pernah lihat talkshownya di TV), mungkin peminum pemula juga O_o. Tapi kita harus tetap optimis, harapan itu masih ada. Hadeh ga jelas ya cuap-cuap nya ya begitu deh kesan saya setelah nonton video dokumenter di atas. Tonton ya walau lama, bagus koq. Hehehe. (*)

No comments:

Post a Comment