May 30, 2013

That's All

Tanggal 18 Mei 2013 saya mendapatkan buku ini karena saya tergabung dalam panitia sebuah acara. Tampaknya menarik, sejenak saya tinggalkan buku sejarah yang sedang saya baca. Saya menamatkan buku ini hanya dalam satu hari.


Membaca di lembaran awal saja membuat saya tertawa dan menangis. Hal ini bisa dikombinasi terjadi menjadi satu karena penulisnya (baca: Mbak Tami) piawai membawakannya sekaligus menyentuh emosi pembaca. Sebenarnya isi tulisan ini adalah pengalaman penulis terhadap orang terdekatnya yaitu suaminya. Pengalaman hidup suami di mata istri yang dituliskan, tentunya menjadi prasasti yang bisa menjadi sejarah terbukukan dan dikonsumsi banyak orang untuk diambil pelajaran dalam kehidupan. Selain itu kata pengantar oleh sang suami (baca: Ferrasta-Mas Pepeng) berisi puisi yang dinanti 23 tahun, ikut menitikkan tetesan mata di pembukaan buku ini.

Di awal tulisan tentang pertemuan mereka, ketika sampai pada latar di Kampus UI Fakultas Sastra dan Jurusan Antropologi saat itu sejenak mengingatkan saya pada “kerabat” Antropologi lainnya. Dengan penampilan nyentrik, sandal jepit, kaos oblong, gelang etnik segambreng, jeans belel bolong pulak, dan muka kucel, yang sering disebut dengan “ngantrop”. Haha. Jaman 2002 ketika saya masuk kuliah, kami dijuluki angkatan pesantren Antrop, karena kerabat yang biasa diisi dengan penampilan demikian jadi lebih berwarna dengan adanya warna-warni jilbab kami. Aaaiiih jadi ingat teman-teman seperjuangan ketika diinisiasi (ospek jurusan). Dari buku ini  saya melihat gambaran utuh dahulu jurusan tempat saya berkuliah selama 4,5 tahun seperti apa. Walaupun sekarang pindah fakultas di FISIP, tapi jejak-jejak budaya itu masih ada. Oh iya, angkatan penulis dan suami jauuuuh sekali dari saya, dan ketika saya hitung-hitung usia mereka satu zaman dengan orang tua saya :D

Yups lanjut lagi dengan tulisan Mbak Tami tentang suaminya. Perjalanan hidup penulis mendapatkan pendamping yang ‘beda’ dari background keluarganya benar-benar menggambarkan pasangan yang saling melengkapi. Keluarga dubes bertemu dengan keluarga Mas Pepeng dari suku Madura sederhana (julukan Pepeng diambil dari: Pemuda Pengkolan) bisa dibayangkan bagaimana kehidupan budaya yang terjadi di rumahnya. Table manner bertemu dengan makan ala lesehan. Gaya fashionable nan stylist bertemu dengan dandanan ‘seadanya’. Beragam warna dan rasa, seperti hidup yang mereka jalani dari awal pernikahan hingga saat ini. Walaupun gaya hidup yang berbeda, dengan lingkungan yang bisa dibilang tidak terlalu kondusif, masing-masing dari mereka teguh  menjalankan ibadah rutin kepada Robb nya.

Hingga akhirnya pada satu titik di masa pernikahan yang sudah puluhan tahun dilalui, ketika suami mendapatkan ujian berupa sakit Multiple Schlerosis, mereka menjalaninya dengan sabar bahkan terkesan tidak menderita. Betapa rasa syukur dan tawaqal kepada Tuhan menjadikan rezeki yang memang sudah ditetapkan-Nya mengalir dari arah yang tak disangka. Sungguh perjalanan metamorfosa spiritual yang menyentuh. Energi positif berupa motivasi dan sharing pembelajaran hidup, menjadikan buku ini layak untuk dibaca. Yah sepertinya begitulah hidup yang harus kita jalani. Ikuti iramanya, nikmati alunanannya, cermati keindahan warnanya, yakin dan percaya pada ketetapan-Nya, dan nantikan hadiah ‘grand prize’ terindah dari-Nya. That’s All J

No comments:

Post a Comment